Minggu, 22 November 2020

 

ADAB BERPAKAIAN, BERHIAS, PERJALANAN, BERTAMU DAN MENERIMA TAMU

(Ringkasan BAB 4 Akidah Akhlak)


No

Akhlak Terpuji

Penjelasan Adab

1

Berpakaian

Setiap orang yang beriman harus berpakaian untuk menutup aurat. Busana muslimah haruslah memenuhi kriteria berikut ini :

a.       Tidak jarang / transparan dan ketat.

b.      Tidak menyerupai pakaian laki-laki.

c.       Tidak menyerupai busana khusus non-muslim.

d.      Pantas dan sederhana.

Di samping itu, disunnahkan untuk berdo’a ketika memakai dan melepas pakaian

2

Berhias

Ada  beberapa  barang  perhiasan  yang  dihalalkan  untuk  kaum  perempuan tetapi diharamkan untuk kaum wanita, diantaranya adalah emas dan sutera asli.

Ada  beberapa  hal  yang diharamkan dalam perhiasan:

a.       Bagi laki-laki memakai emas dan sutera.

b.      Pakaian yang mempertajam bagian tubuh (pakaian ketat)

c.       Laki-laki menyerupai wanita dan wanita menyerupai laki -laki.

d.      Pakaian yang berlebih-lebihan dan untuk kesombongan.

e.       Tato dan mengikir gigi.

f.       Menipiskan alis.

g.      Menyambung rambut.

h.      tabarruj al-jahiliyyah, yaitu berhias dengan maksud untuk mengundang rangsangan birahi kepada lawan jenis yang bukan pasangannya.

i.        Berhias untuk kesombongan

3

Perjalanan

a.       Perjalanan untuk ibadah

b.      Berdoa ketika berangkat, dalam perjalanan, dan ketika sampai

c.       Diperbolehlam menjama’ dan mengqashar shalat

d.      Jika  menemukan  benda-benda  berbahaya  misalnya  paku,  pecahan  kaca,  dll. hendaklah diambil dan di buang di tempat sampah.

4

Bertamu

Dalam  bertamu,  tentu  saja  ada  tata  cara  dan  adabnya. Islam  mengatur  tata  cara tersebut, diantaranya:

a.       Memilih waktu yang tepat.

b.      Mengetuk pintu atau membunyikan bel (maksimal 3x)

c.       Tamu  laki-laki  dilarang  masuk  ke  dalam  rumah,  apabila  tuan  rumah  hanya seorang wanita.

a.       Memperkenalkan diri, apabila tuan rumah belum kenal

b.      Mengucapkan ”assalamu’alaikum” maksimal tiga kali, dengan pelan-pelan.

c.       Apabila sudah dipersilakan masuk, maka masuklah dengan sopan.

d.      Jangan duduk sebelum dipersilakan.

e.       Menempati tempat duduk yang ditunjukkan oleh tuan rumah dengan tenang dan sopan.

f.       Mengutarakan maksud dan tujuan dengan bahasa yang baik dan santun.

g.      Apabila  disuguhi  makanan  dan  dipersilakan,  maka  makanlah  dengan  sopan,

h.      Jangan memakan seperti orang lapar dan rakus.

i.        Jangan melirik-lirik.

j.        Apabila  dirasa  sudah  cukup,  bersegeralah  minta  ijin  untuk  pulang  dengan  raut muka yang sopan dan ramah.

k.      Lama waktu bertamu maksimal tiga hari.

l.        Ucapkanlah ”assalamu’alaikum” sebagai pertanda pamit.

5

Menerima Tamu

Ringkasnya,  apabila  kedatangan tamu, maka hendaklah diperhatikan hal -hal berikut ini:

a.       Berpakaian sopan.

b.      Terimalah tamu dengan sopan santun dan ramah-tamah.

c.       Jawablah samam dengan ucapan ”wa’alaikumussalam” bila memberi salam

d.      Tunjukkan wajah yang berseri-seri, tanpa membedakan siapa tamu yang hadir.

e.       Wanita yang sendirian di rumah dilarang menerima tamu laki-laki.

f.       Persilakan masuk dan duduk.

g.      Suguhilah hidangan dan minum .

h.      Apabila  tamu  tersebut  ingin  ketemu  orang  tua  kita,  maka  segeralah  beri  tahu orang tua kita.

i.        Ajaklah bicara dengan penuh kehangatan dan keakraban.

j.        Jawablah ”salam” apabila tamu mengucapkan salam untuk pamit pulang

k.      Antarlah tamu sampai depan rumah/halaman, ketika pulang

 

MENGHINDARI PERGAULAN BEBAS DAN PERBUATAN KEJI MENURUT AL-QUR'AN DAN HADIS



1.      Q.S. al-Isra [17]: 32

وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلزِّنَىٰٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةٗ وَسَآءَ سَبِيلٗا 

“Dan janganlah kalian mendekati zinasesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan seburuk-buruknya jalan”

Kandungan Ayat

a.       Ayat tersebut melarang tegas umat manusia untuk mendekati zina. Mendekatinya saja dilarang, apalagi melakukannya.

b.      Ayat tersebut menyatakan bahwa zina adalah perbuatan keji dan sebuah tindakan yang sangat buruk. Hal tersebut karena dampak yang dihasilkan oleh zina akan merugikan manusia yang bersangkutan. Banyak kita jumpai berita orang hamil di luar nikah yang membuat malu keluarganya, wanita hamil dan melakukan aborsi karena takut ketahuan, dan kasus bunuh diri karena depresi yang dialami wanita yang bersangkutan. Al-Qur’an melarang melakukan perbuatan buruk tentu untuk kebaikan manusia itu sendiri.

 

2.      Q.S. al-Nur [24]: 2

ٱلزَّانِيَةُ وَٱلزَّانِي فَٱجۡلِدُواْ كُلَّ وَٰحِدٖ مِّنۡهُمَا مِاْئَةَ جَلۡدَةٖۖ وَلَا تَأۡخُذۡكُم بِهِمَا رَأۡفَةٞ فِي دِينِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۖ وَلۡيَشۡهَدۡ عَذَابَهُمَا طَآئِفَةٞ مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 

Pezina  perempuan  dan  pezina  laki-laki,  deralah  masing-masing  dari  keduanya seratus kali, dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah  kamu  untuk  (men-jalankan)  agama  (hukum)  Allah,  jika  kamu beriman  kepada  Allah  dan  hari  kemudian;  dan  hendaklah  (pelaksanaan) hukuman  mereka  disaksikan  oleh  sebagian  orang-orang  yang  beriman

Kandungan Ayat

Ayat ini menjelaskan tentang hukuman untuk pelaku zina. Pelaku zina terbagi menjadi dua macam, yaitu:

a.       Zina yang dilakukan oleh orang yang belum menikah (ghairu muhsan). Hukuman  bagi  pezina  gairu  muḥṣan  adalah 100  kali  cambukan  dan  ditambah  dengan  diasingkan  dari  negerinya selama  setahun,  demikianlah  menurut  jumhur  ulama.

b.      Zina yang dilakukan oleh orang yang sudah menikah (muhsan). Sedangkan  hukuman  pezina  yang  sudah  menikah  (muḥṣan) adalah dirajam (dilempari batu).

 

Perbuatan yang bisa mengundang perbuatan zina:

a.       Melihat aurat/tidak menjaga pandangan

b.      Mendengarkan hal-hal yang dapat membangkitkan syahwat

c.       Pergaulan bebas

d.      Berduaan/khalwat dengan lawan jenis

3.      H.R. Bukhari dan Muslim



Kami  telah  diceritakan  oleh  Sa’id  bin  ‘Ufair  dari  al-Lays  dari  ‘Uqail  dari  Ibn  Syihab  dari  Abu  Bakr  dari  Abdurrahman  dari  Abu  Hurayrah  Ra. bahwasanya  Nabi  Muhammad  Saw.  telah  berkata:  ”Tidak  akan  berzina seorang pelacur di waktu berzina jika ia sedang beriman, dan tidak akan minum  khamr  di  waktu  minum  jika  ia  sedang  beriman,  dan  tidak  akan mencuri  di  waktu  mencuri  ia  sedang  beriman”. Dalam  riwayat  lain, ditambahkan:”Dan  tidak  akan  merampas  rampasan  yang  berharga sehingga orang-orang membelalakkan mata kepadanya, ketika merampasia sedang beriman”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Kandungan Hadits

Keimanan  merupakan  landasan  utama  dalam  hidup  manusia.  Jika imannya  kuat,  maka  ia  tidak  akan  tergoda  oleh  rayuan  perbuatan  dosa. Namun  jika  imannya  lemah,  maka  ia  akan  mudah  tergoda  untuk melakukan  perbuatan  dosa.  Dalam  hadis  di  atas,  jika  keimanan  seseorang  itu kuat,  maka  ia  tidak  akan  mau  melakukan  empat  perbuatan  berikut: berzina,  meminum  minuman  keras,  mencuri  dan  merampas  hak  orang lain.  Begitu  sebaliknya,  bila  seseorang  melakukan  empat  perbuatan tersebut, maka dikatakan bahwa tidak sempurna nilai keimanannya.

Sumber: Buku Al-Qur'an Hadits XI Kemenag RI

 

BERBAKTI KEPADA ORANG TUA DAN GURU MENURUT TINJAUAN HADIS


1.      Hadis Riwayat Muslim (H.R. Muslim)

Redaksi

Terjemah

Kami  diceritakan  oleh  Syaiban  bin  Farukh  dari  Abu  ‘Awanah  dari  Suhail dari ayahnya dari Abu Hurairah dari Nabi Muhammad Saw.Dari  Abū  Hurairah  dari  Nabi  Muhammad  Saw.,  beliau  :  “Dia  celaka!  Dia celaka!  Dia  celaka!”  lalu  beliau  ditanya;  “Siapakah  yang  celaka,  ya Rasūlullāh  ?”  Jawab  Nabi  :  “Barang  siapa  yang  mendapati  kedua  orang tuanya (dalam usia lanjut), atau salah satu dari keduanya (namun ia tidak berbakti kepadanya dengan sebaik-baiknya), maka dia tidak akan masuk surga.”

Kandungan

Hadis  yang  diriwayatkan  oleh  Imam  Muslim  tersebut  menjelaskan bahwa  seseorang  akan  celaka  ketika  tidak  berbakti  kepada  orang  tua. Kata  “Dia  celaka” /raghima anfuhu diulang  oleh  Rasulullah  sebanyak tiga  kali, yang  menunjukkan  bahwa  celaka  akan  benar-benar  terjadi  kepada seseorang  yang  tidak  berbakti  kepada  orang  tua.  Hal  ini  juga menunjukkan  betapa  pentingnya  berbakti  kepada  kedua  orang  tua,terlebih  lagi  ketika  kedua  orang  tua  atau  salah  satu  dari  mereka  masih hidup.

2.      Hadis Riwayat al-Bukhari dan Muslim (H.R. Bukhari dan Muslim)

Redaksi


Terjemah

Aku mendengar ‘Abdullā h bin ‘Amr Ra. berkata : “Seorang laki-laki datang  kepada Nabi, lalu meminta izin untuk ikut berjihad. Maka beliau bertanya: “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Laki-laki itu menjawab: “Iya”. Maka  beliau  berkata:  “Kepada  keduanyalah  kamu berjihad  (berbakti)”

Kandungan

Hadis  Riwayat  Imam  Bukhari  dan  Muslim  menjelaskan bahwa  berbakti  kepada  kedua  orang  tua  memiliki  nilai  pahala  yang sangat besar. Bahkan nilai pahala berbakti kepada kedua orang tua oleh Rasulullah disamakan dengan nilai pahala jihad, berperang, dan melawan kaum kafir.

  ADAB BERPAKAIAN, BERHIAS, PERJALANAN, BERTAMU DAN MENERIMA TAMU (Ringkasan BAB 4 Akidah Akhlak) No Akhlak Terpuji...