Pasca
terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan, kepemimpinan digantikan oleh Ali bin Abi
Thalib. Mu’awiyah yang
merasa representasi keluarga
Utsman bin Affan mengajukan tuntutan agar Ali bin Abi Ṭālib
memprioritaskan pengusutan pembunuhan Utsman bin Affan. Sebenarnya Ali bin Abi Ṭālib
sudah bersungguh-sungguh berupaya membongkar kasus pembunuhan Utsman tersebut,
tetapi belum berhasil. Mu’awiyah bin Abi
Ṣufyān tidak mau
baiat kepada Ali
bin Abi Ṭālib
dan secara terang-terangan menolak kekhalifahannya. Mu’awiyah bin Abi Ṣufyān,
yang saat itu menjabat gubernur di Syam menyusun kekuatan untuk
melawan kekhalifahan Ali
bin Abi Ṭālib.
Pada akhirnya bertempurlah dua kekuatan pasukan di Siffin. Kemudian,
pihak Mu’awiyah mengusulkan diadakan perundingan. Usulan tersebut
pada awalnya diragukan
ketulusannya oleh Ali
bin Abi Ṭālib. Namun pada
akhirnya Ali bin Abi Ṭālib menerima ajakan damai tersebut setelah didesak oleh
sebagian pasukannya.
Peristiwa
perundingan antara pihak Ali bin Abi Ṭālib dan pihak Mu’awiyah inilah
kemudian dikenal dengan
sebutan tahkīm/arbitrase. Masing-masing
delegasi berjumlah 400 orang
(sebagian riyawat mengatakan
100 orang). Perwakilan
Ali bin Abi Ṭālib dipimpin
Abu Musa Al-Asy’ari, delegasi
Mu’awiyah dipimpin ‘Amr
bin ‘Ash. Dalam dialog antara
delegasi Ali bin Abi Ṭālib dan delegasi Mu’awiyah, dicapailah suatu
kesepakatan, bahwa untuk meredakan pertikaian maka Ali bin Abi Ṭālib dan Mu’awiyah harus diturunkan dari
jabatannya. ‘Amr bin ‘Ash meminta
kepada Abu Musa al-Asy’ari untuk
menyampaikan hasil kesepakatan lebih
dulu baru kemudian dirinya. Ternyata hal tersebut hanyalah sebuah strategi
untuk memenangkan diplomasi, yang tidak diantisipasi oleh Abu Musa
alAsy’ari. Lalu Abu Musa menyampaikan hasil perundingan di
Daumatal Jandal tersebut tanpa mempunyai kecurigaan apapun kepada ‘Amr bin
‘Ash.
Setelah kejadian
aneh dan kacau
itu, Abu Musa al-Asy’ari
meninggalkan kota Daumatul Jandal menuju
Makkah. Sementara ‘Amr bin ‘Ash
dan anggota delegasinya meninggalkan Daumatul Jandal untuk menemui dan memberitahu
Mu’awiyah tentang hasil
tahkīm dan sekaligus mengucapkan selamat kepada Mu’awiyah
sebagai khalifah. Dan
inilah awal kekuasaan
Dinasti Umayyah di Damaskus. Sementara
itu Ibnu Abbas
menemui Ali bin Abi Ṭālib untuk
memberitahu hasil pertemuan tahkīm.
Dampak dari
peristiwa tahkīm tersebut,
umat Islam terpecah
menjadi tiga faksi, yaitu:
1. Kelompok yang tetap setia kepada Ali bin Abi Ṭālib
, yang kemudian menjadi embrio kelompok Syi’ah.
2. Pecahan
kelompok Ali bin
Abi Ṭālib ,
yang kemudian dikenal
dengan sebutan Khawārij .
3. Kelompok yang mendukung Mu’awiyah bin Abi Ṣufyān.
Pada awalnya, aliran Khawārij hanya memperdebatkan persoalan politik, namun kemudian menjalar ke persoalan teologi/akidah. Misalnya sikap mereka terhadap Utsman, Ali bin Abi Ṭālib dan Mu’awiyah yang dinilainya sebagai kafir karena dianggap mencampuradukkan antara yang benar (haq) dengan yang palsu (bāṭil). Karena itu mereka merencanakan untuk membunuh Ali bin Abi Ṭālib, Mu’awiyah bin Abi Ṣufyān, dan ‘Amr bin ‘Ash. Rencana pembunuhan tersebut dirancang dengan matang. Ibnu Muljam ditugaskan untuk membunuh Ali bin Abi Ṭālib di Kufah. Hajjaj bin Abdullah ditugaskan untuk membunuh Mu’awiyah di Damaskus. ‘Amr bin Bakar ditugaskan untuk membunuh ‘Amr bin ‘Ash di Mesir. Namun pada akhirnya yang berhasil dibunuh hanyalah Ali bin Abi Ṭālib. Sedangkan Mu’awiyah hanya mengalami luka -luka, dan ‘Amr bin ‘Ash selamat sepenuhny, karena tidak ke Masjid, dan hanya berhasil membunuh Kharijah yang dikira ‘Amr bin ‘Ash kerena kemiripan rupanya.
Sumber: Buku Akidah Akhlak Kelas 11