Sabtu, 08 Agustus 2020

SEJARAH ILMU KALAM

            Ilmu Kalam adalah salah satu pembahasan mengenai dasar-dasar dalam agama Islam. Bisa juga dipahami sebagai ilmu tentang perkara Allah dan sifat-sifat-Nya. Menurut Hassan al-Banna, ruang lingkup Ilmu Kalam menyangkut 4 hal berikut:

·         Ilahiyyah         : segala hal tentang Allah (seperti wujud, nama, sifat dan lain-lain)

·         Nubuwwah     : segala hal tentang Nabi (seperti kitab, mukjizat, nama dan lain-lain

      Rohaniyyah     : segala yang berhubungan dengan metafisik/yang tidak kasat mata (seperti roh, malaikat, jin, dan lain-lain)

·         Sam’iyyah       : segala hal yang hanya dapat diketahui dengan adanya dalil Al-Qur’an atau hadits (seperti alam Barzakh, surga, neraka, dan lain-lain)

Adapun untuk perkembangan ilmu kalam sebagai berikut:

1.      Akidah Islam pada Masa Nabi SAW

Ketika  Nabi  Muhammad  Saw.  masih  hidup,  umat  Islam  masih  bersatu-padu,  belum ada  aliran-aliran/firqah.  Apabila terjadi  perbedaan  pemahaman terhadap  suatu  persoalan, maka para sahabat  langsung    berkonsultasi  kepada Nabi.

2.      Akidah Islam pada Masa Khulafa’ Rasyidin (Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman, Ali)

Pada masa khalifah Abu Bakar al-Shiddiq dan Umar bin Khattab umat Islam masih dalam satu corak pemahaman akidah. Benih perpecahan muncul pada masa khalifah Utsman bin Affan karena kebijakan politik yang beliau ambil. Situasi  politik  yang  tidak  stabil  pada  masa  pemerintahan  Khalifah  Utsman  bin Affan  mencapai  puncaknya  dengan  terbunuhnya   khalifah  ketiga  tersebut. Kasus  terbunuhnya  Utsman  bin  Affan,  yang  dikenal  dengan  al-fitnah  al-kubra menjadi tonggak munculnya kelompok-kelompok dalam Islam. Walaupun yang memicu munculnya aliran-aliran dalam Islam adalah masalah politik, namun  pada  akhirnya  berkembang  ke  masalah  akidah  atau  teologi.  Dari  sinilah, akhirnya muncul berbagai firqah/aliran dalam Islam.Pada masa ini muncul aliran Syi’ah dan Khawarij (Penjelasan pada bab 2). Pada masa ini, tema utama perdebatan para  mutakallimīn adalah tentang hukum orang mukmin yang melakukan dosa besar.

3.      Akidah Islam pada Masa Bani Umayah

Pada  masa  ini,  perdebatan  di  bidang  aqidah  sudah  sangat  tajam karena  kedaulatan  Islam  sudah  mulai  kokoh,  sehingga  umat  Islam  semakin leluasa untuk mengembangkan pemikiran-pemikiran yang sebelumnya tidak disentuh.. Umat  Islam  mulai  tertarik  untuk  mendiskusikan masalah qadar, begitu juga masalah istiṭa’ah. Pada masa ini muncul aliran Jabariyah dan Qadariyah (penjelasan di Bab 2). Pada masa Daulah Umayyah ini juga muncul pemikir yang cerdas yaitu  Hasan al-Baṣri  yang   kemudian  dijadikan  rujukan  oleh  mayoritas  Umat  Islam  dengan pendapatnya bahwa orang mukmin yang melakukan dosa besar dipandangnya sebagai orang fasik, tidak keluar dari golongan mu’min

4.      Akidah Islam pada Masa Bani Abasiyah

Pada masa ini, hubungan bangsa Arab dengan bangsa lain makin intens sehingga melahirkan corak pemikiran baru. Gerakan  penerjemahan  filsafat  Yunani  dan  Persia  gencar  dilakukan, sehingga  terjadi  transfer  ilmu  pengetahuan  yang  berasal  dari  luar  Islam. Corak pemikiran  baru  ini  kemudian  dikembangkan  oleh  para  pemikir  Islam  dalam  disiplin ilmu yang dikenal dengan Ilmu kalam. Para  mutakallimin  mulai  menulis  karya  pemikiran  mereka  dalam  bentuk  kitab kitab. Antusiasme  para  pemikir  Ilmu  kalam  semakin  berkembang  pesat  pada  masa pemerintahan  al-Ma’mun. Pada masa ini terkenal aliran Mu’tazilah (penjelasan di Bab 2)

5.      Akidah Islam pada Masa Sesudah Bani Abasiyah

Pada  masa  ini,  paham  Asy’ariyah  dan  Maturidiyah  mengalami  perkembangan yang  sangat  pesat sehingga  menjadi  paham  mayoritas  umat  Islam.  Corak  pemikiran  yang  mudah  dipahami,  dan  mampu  mengkolabirasikan  antara  dalil  naqli/nash  dan  pendekatan akal/filsafat menjadikan aliran Asy’ariyah dan  Maturidiyah menjadi aliran  yang banyak dikikuti oleh umat Islam. Aliran ini kemudian dikenal dengan sebutan ahlu al-sunnah wa al-jama’ah dan menjadi paham mayoritas umat Islam. Pada permulaan abad ke-8 H, muncul Taqiyyudin Ibnu Taimiyah di Damaskus yang berusaha membongkar beberapa pemikiran Asy’ariyah yang dianggapnya tidak murni bersumber dari al-Qur’an dan al-Hadiś. Pemikiran Ibnu Taimiyah ini kemudian dikenal  dengan  gerakan  Salafi.  Pada  perkembangan  selanjutnya  muncul  pemikir pemikir Islam seperti Ibnul Qayyim al-Jauziyah, Jamaluddin al-Afghani, Rasyid Ridlo, Muhammad Abduh, dan Muhammad bin Abdul Wahab.

Sumber: Buku Akidah Akhlak Kelas 11

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  ADAB BERPAKAIAN, BERHIAS, PERJALANAN, BERTAMU DAN MENERIMA TAMU (Ringkasan BAB 4 Akidah Akhlak) No Akhlak Terpuji...