Sabtu, 08 Agustus 2020

PERISTIWA TAHKIM DAN DAMPAK TERHADAP ALIRAN KALAM

 

Pasca terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan, kepemimpinan digantikan oleh Ali bin Abi Thalib.  Mu’awiyah  yang  merasa  representasi  keluarga  Utsman  bin  Affan mengajukan tuntutan agar Ali bin Abi Ṭālib memprioritaskan pengusutan pembunuhan Utsman bin Affan. Sebenarnya Ali bin Abi Ṭālib sudah bersungguh-sungguh berupaya membongkar kasus pembunuhan Utsman tersebut, tetapi belum berhasil. Mu’awiyah bin Abi  Ṣufyān  tidak  mau  baiat  kepada  Ali  bin  Abi  Ṭālib   dan  secara  terang-terangan  menolak kekhalifahannya. Mu’awiyah bin Abi Ṣufyān, yang saat itu menjabat gubernur di  Syam  menyusun kekuatan  untuk  melawan  kekhalifahan  Ali  bin  Abi  Ṭālib.  Pada akhirnya bertempurlah dua kekuatan pasukan di Siffin. Kemudian, pihak Mu’awiyah mengusulkan diadakan perundingan. Usulan  tersebut  pada  awalnya  diragukan  ketulusannya  oleh  Ali  bin  Abi Ṭālib. Namun pada akhirnya Ali bin Abi Ṭālib menerima ajakan damai tersebut setelah didesak oleh sebagian pasukannya.

Peristiwa perundingan antara pihak Ali bin Abi Ṭālib dan pihak Mu’awiyah  inilah  kemudian  dikenal  dengan  sebutan  tahkīm/arbitrase.  Masing-masing  delegasi berjumlah  400  orang  (sebagian    riyawat  mengatakan  100  orang).  Perwakilan  Ali  bin  Abi Ṭālib   dipimpin  Abu  Musa  Al-Asy’ari,  delegasi  Mu’awiyah  dipimpin  ‘Amr  bin  ‘Ash. Dalam dialog antara delegasi Ali bin Abi Ṭālib dan delegasi Mu’awiyah, dicapailah suatu kesepakatan, bahwa untuk meredakan pertikaian maka Ali bin  Abi Ṭālib dan Mu’awiyah harus diturunkan dari jabatannya. ‘Amr bin ‘Ash    meminta kepada  Abu Musa al-Asy’ari untuk menyampaikan hasil kesepakatan  lebih dulu baru kemudian dirinya. Ternyata hal tersebut hanyalah sebuah strategi untuk memenangkan diplomasi, yang tidak diantisipasi oleh Abu Musa alAsy’ari.  Lalu  Abu Musa menyampaikan hasil perundingan di Daumatal Jandal tersebut tanpa mempunyai kecurigaan apapun kepada ‘Amr bin ‘Ash.

Setelah  kejadian  aneh  dan  kacau  itu, Abu  Musa  al-Asy’ari  meninggalkan  kota  Daumatul Jandal  menuju  Makkah.  Sementara ‘Amr bin ‘Ash dan anggota delegasinya meninggalkan Daumatul Jandal untuk menemui dan  memberitahu  Mu’awiyah  tentang  hasil    tahkīm  dan  sekaligus mengucapkan selamat kepada  Mu’awiyah  sebagai  khalifah.  Dan  inilah  awal  kekuasaan  Dinasti Umayyah di Damaskus. Sementara  itu  Ibnu  Abbas    menemui Ali bin  Abi Ṭālib untuk memberitahu hasil pertemuan tahkīm.


 

Dampak  dari  peristiwa  tahkīm  tersebut,  umat  Islam  terpecah  menjadi  tiga faksi, yaitu:

1.  Kelompok yang tetap setia kepada Ali bin Abi Ṭālib , yang kemudian menjadi embrio kelompok Syi’ah.

2.  Pecahan  kelompok  Ali  bin  Abi  Ṭālib  ,  yang  kemudian  dikenal  dengan  sebutan Khawārij .

3.  Kelompok yang mendukung Mu’awiyah bin Abi Ṣufyān.

Pada awalnya, aliran Khawārij hanya memperdebatkan persoalan politik, namun kemudian   menjalar  ke  persoalan  teologi/akidah.  Misalnya  sikap  mereka  terhadap Utsman, Ali bin Abi Ṭālib dan Mu’awiyah yang dinilainya sebagai kafir karena  dianggap mencampuradukkan  antara  yang  benar  (haq)  dengan  yang  palsu  (bāṭil).  Karena  itu mereka merencanakan untuk membunuh Ali bin Abi Ṭālib, Mu’awiyah bin Abi Ṣufyān, dan ‘Amr bin ‘Ash. Rencana pembunuhan tersebut dirancang dengan matang. Ibnu Muljam ditugaskan untuk  membunuh  Ali  bin  Abi  Ṭālib  di  Kufah.  Hajjaj  bin  Abdullah  ditugaskan  untuk membunuh Mu’awiyah di Damaskus. ‘Amr bin Bakar ditugaskan untuk membunuh ‘Amr bin ‘Ash di Mesir. Namun pada akhirnya  yang berhasil dibunuh hanyalah Ali bin Abi Ṭālib. Sedangkan Mu’awiyah hanya mengalami luka -luka, dan ‘Amr bin ‘Ash selamat sepenuhny, karena tidak ke Masjid, dan hanya berhasil membunuh Kharijah yang dikira ‘Amr bin ‘Ash kerena kemiripan rupanya.


Sumber: Buku Akidah Akhlak Kelas 11

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  ADAB BERPAKAIAN, BERHIAS, PERJALANAN, BERTAMU DAN MENERIMA TAMU (Ringkasan BAB 4 Akidah Akhlak) No Akhlak Terpuji...