HORMAT DAN PATUH KEPADA ORANG TUA DAN GURU MENURUT TINJAUAN AL-QUR'AN
Istilah orang tua mencakup
tiga komponen, yaitu:
a.
Pertama adalah
orang yang menyebabkan kita
lahir, yaitu ayah dan ibu.
b.
Kedua adalah orang yang mengajari kita berbagai
ilmu pengetahuan, yaitu
para guru, baik
yang mengajari saat
kita masih kecil ataupun
waktu dewasa. Biasanya
guru disebut orang
tua rohani.
c.
Ketiga adalah orang yang menyebabkan pasangan kita
lahir, yaitu bapak dan ibu mertua.
Q.S.
al-Isra [17]: 23-24
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ
إِيَّاهُ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنًاۚ إِمَّا يَبۡلُغَنَّ عِندَكَ ٱلۡكِبَرَ
أَحَدُهُمَآ أَوۡ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفّٖ وَلَا تَنۡهَرۡهُمَا
وَقُل لَّهُمَا قَوۡلٗا كَرِيمٗا وَٱخۡفِضۡ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ
ٱلرَّحۡمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرۡحَمۡهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرٗا
Dan
Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan
hendaklah berbuat baik
kepada ibu bapak.
Jika salah seorang
di antara keduanya atau
kedua-duanya sampai berusia
lanjut dalam pemeliharaanmu, maka
sekali-kali janganlah engkau
mengatakan kepada keduanya perkataan
“ah” dan janganlah
eng-kau membentak keduanya,
dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik (QS. al-Isrā’[17]: 23
).Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan
ucapkanlah, ”Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah
mendidik aku pada waktu kecil (QS. al-Isrā’ [17]: 24)
Surat al-Isrā’ ayat
23-24 memuat konsep pendidikan berkarakter, yaitu sistem pendidikan yang
utuh dan paripurna. Di mana, yang pertama harus dilakukan adalah melaksanakan
perintah Allah Swt.
untuk hanya mau
menyembah Allah semata.
Tidak menduakan-Nya. Setelah itu,
adanya keharusan untuk
melaksanakan iḥsān(bakti) kepada
kedua orang tua, sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Swt. dengan
cara bersikap baik
dan sopan kepada
keduanya, baik dalam ucapan maupun perbuatan, sesuai dengan
yang semestinya, sehingga mereka merasa
senang terhadap kita,
dan mencukupi semua
kebutuhan mereka secara wajar
sesuai dengan kemampuan kita (sebagai anak).
Kandungan ayat tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1.
Kewajiban
meng-Esakan Allah SWT (tauhid)
2.
Kewajiban
berbuat baik kepada orang tua, yang mencakup beberapa hal berikut:
a.
Jangan
berkata ‘ah’ (اف / uf )dan
jangan membentak keduanya.
b.
Bermu’amalah
atau memperlakukan keduanya dengan baik yang menggambarkan kasih sayang dan
penghormatan kita sebagai anak di depan orang tua.
c.
Mendoakan
kedua orang tua.
Q.S. Luqman
[31]: 13-17
وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ
يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ
وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ وَهۡنًا عَلَىٰ
وَهۡنٖ وَفِصَٰلُهُۥ فِي عَامَيۡنِ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِي وَلِوَٰلِدَيۡكَ إِلَيَّ
ٱلۡمَصِيرُ وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ
عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ وَصَاحِبۡهُمَا فِي ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفٗاۖ وَٱتَّبِعۡ
سَبِيلَ مَنۡ أَنَابَ إِلَيَّۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا
كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ يَٰبُنَيَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثۡقَالَ حَبَّةٖ مِّنۡ
خَرۡدَلٖ فَتَكُن فِي صَخۡرَةٍ أَوۡ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ يَأۡتِ
بِهَا ٱللَّهُۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٞ يَٰبُنَيَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ
وَأۡمُرۡ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱنۡهَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ
أَصَابَكَۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ
Dan (ingatlah)
ketika Lukman berkata
kepada anaknya, ketika
dia memberi pelajaran kepadanya,
”Wahai anakku! Janganlah
engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya
mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar” (QS.
Luqmān [31]: 13).
Dan Kami
perintahkan kepada manusia
(agar berbuat baik)
kepada kedua orang tu-anya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan
lemah yang bertambah-tambah, dan
menyapihnya dalam usia
dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku
dan kepada kedua
orang tuamu. Hanya
kepada Aku kembalimu (QS. Luqmān [31]: 14).
Dan
jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau
tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati
keduan-ya, dan pergaulilah
keduanya di dunia
dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian
hanya kepada-Ku tempat kembalimu,
maka akan Aku
beritahukan kepadamu apa yang
telah kamu kerjakan (QS. Luqmān [31]: 15).
(Lukman berkata),
”Wahai anakku! Sungguh,
jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan
berada dalam batu atau di langit atau di bumi,
niscaya Allah akan
member-inya (balasan). Sesungguhnya
Allah Maha halus, Maha teliti (QS. Luqmān [31]: 16).
Wahai
anakku! Laksanakanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan
cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa
yang menim-pamu, sesungguhnya
yang demikian itu termasuk perkara yang penting (QS. Luqmān
[31]: 17)
Kandungan ayat tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
|
Ayat ke- |
Kandungan |
|
13 |
Pesan agar
tidak menyekutukan Allah dengan apapun (tauhid) karena syirik merupakan
kezhaliman yang besar. |
|
14 |
Berbuat baik/ihsan
kepada kedua orang tua sebagai tanda syukur kepada Allah dan terimakasih
kepada orang tua |
|
15 |
Apabila orang
tua memerintahkan anak untuk berbuat maksiat, anak tidak boleh mengikuti
keinginan orang tua. Meskipun demikian, anak tetap wajib menghormati
keduanya. |
|
16 |
Setiap
perbuatan akan diberi balasan (walau sekecil biji sawi sekalipun) |
|
17 |
Pesan untuk
mendirikan shalat, amar ma’ruf nahi mungkar (memerintahkan yang baik dan
mencegah kejahatan), dan pesan agar sabar dalam menghadapi cobaan. |
Sumber: Al-Qur'an Hadits XI Kemenag RI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar