Minggu, 22 November 2020


HORMAT DAN PATUH KEPADA ORANG TUA DAN GURU MENURUT TINJAUAN AL-QUR'AN 

 

Istilah  orang  tua  mencakup  tiga  komponen, yaitu:

a.       Pertama  adalah  orang  yang menyebabkan kita lahir, yaitu ayah dan ibu. 

b.      Kedua  adalah orang yang mengajari kita  berbagai  ilmu  pengetahuan,  yaitu  para  guru,  baik  yang  mengajari  saat  kita masih  kecil  ataupun  waktu  dewasa.  Biasanya  guru  disebut  orang  tua  rohani.

c.       Ketiga  adalah orang yang menyebabkan pasangan kita lahir, yaitu bapak dan ibu mertua. 

Q.S. al-Isra [17]: 23-24

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنًاۚ إِمَّا يَبۡلُغَنَّ عِندَكَ ٱلۡكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوۡ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفّٖ وَلَا تَنۡهَرۡهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوۡلٗا كَرِيمٗا وَٱخۡفِضۡ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحۡمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرۡحَمۡهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرٗا 

Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia  dan  hendaklah  berbuat  baik  kepada  ibu  bapak.  Jika  salah  seorang  di antara  keduanya  atau  kedua-duanya  sampai  berusia  lanjut  dalam pemeliharaanmu,  maka  sekali-kali  janganlah  engkau  mengatakan  kepada keduanya  perkataan  “ah”  dan  janganlah  eng-kau  membentak  keduanya,  dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik (QS. al-Isrā’[17]: 23 ).Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ”Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil (QS. al-Isrā’ [17]: 24)

Surat  al-Isrā’  ayat  23-24 memuat konsep pendidikan berkarakter, yaitu sistem pendidikan yang utuh dan paripurna. Di mana, yang pertama harus dilakukan adalah melaksanakan perintah  Allah  Swt.  untuk  hanya  mau  menyembah  Allah  semata.  Tidak menduakan-Nya.  Setelah  itu,  adanya  keharusan  untuk  melaksanakan  iḥsān(bakti) kepada kedua orang tua, sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Swt.  dengan  cara  bersikap  baik  dan  sopan  kepada  keduanya,  baik  dalam ucapan maupun perbuatan, sesuai dengan yang semestinya, sehingga mereka merasa  senang  terhadap  kita,  dan  mencukupi  semua  kebutuhan  mereka secara wajar sesuai dengan kemampuan kita (sebagai anak).

Kandungan ayat tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1.      Kewajiban meng-Esakan Allah SWT (tauhid)

2.      Kewajiban berbuat baik kepada orang tua, yang mencakup beberapa hal berikut:

a.       Jangan berkata ‘ah’ (اف  / uf )dan jangan membentak keduanya.

b.      Bermu’amalah atau memperlakukan keduanya dengan baik yang menggambarkan kasih sayang dan penghormatan kita sebagai anak di depan orang tua.

c.       Mendoakan kedua orang tua.


Q.S. Luqman [31]: 13-17

وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٖ وَفِصَٰلُهُۥ فِي عَامَيۡنِ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِي وَلِوَٰلِدَيۡكَ إِلَيَّ ٱلۡمَصِيرُ وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ وَصَاحِبۡهُمَا فِي ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفٗاۖ وَٱتَّبِعۡ سَبِيلَ مَنۡ أَنَابَ إِلَيَّۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ يَٰبُنَيَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثۡقَالَ حَبَّةٖ مِّنۡ خَرۡدَلٖ فَتَكُن فِي صَخۡرَةٍ أَوۡ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ يَأۡتِ بِهَا ٱللَّهُۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٞ يَٰبُنَيَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱنۡهَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ 

Dan  (ingatlah)  ketika  Lukman  berkata  kepada  anaknya,  ketika  dia memberi  pelajaran  kepadanya,  ”Wahai  anakku!  Janganlah  engkau mempersekutukan  Allah,  sesungguhnya  mempersekutukan  (Allah)  adalah benar-benar kezaliman yang besar” (QS. Luqmān [31]: 13).

Dan  Kami  perintahkan  kepada  manusia  (agar  berbuat  baik)  kepada kedua orang tu-anya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang  bertambah-tambah,  dan  menyapihnya  dalam  usia  dua  tahun. Bersyukurlah  kepada-Ku  dan  kepada  kedua  orang  tuamu.  Hanya  kepada Aku kembalimu (QS. Luqmān [31]: 14).

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau  menaati  keduan-ya,  dan  pergaulilah  keduanya  di  dunia  dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku  tempat  kembalimu,  maka  akan  Aku  beritahukan  kepadamu apa yang telah kamu kerjakan (QS. Luqmān [31]: 15).

(Lukman  berkata),  ”Wahai  anakku!  Sungguh,  jika  ada  (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi,  niscaya  Allah  akan  member-inya  (balasan).  Sesungguhnya  Allah Maha halus, Maha teliti (QS. Luqmān [31]: 16).

Wahai anakku! Laksanakanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap  apa  yang  menim-pamu,  sesungguhnya  yang  demikian  itu termasuk perkara yang penting (QS. Luqmān [31]: 17)

Kandungan ayat tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Ayat ke-

Kandungan

13

Pesan agar tidak menyekutukan Allah dengan apapun (tauhid) karena syirik merupakan kezhaliman yang besar.

14

Berbuat baik/ihsan kepada kedua orang tua sebagai tanda syukur kepada Allah dan terimakasih kepada orang tua

15

Apabila orang tua memerintahkan anak untuk berbuat maksiat, anak tidak boleh mengikuti keinginan orang tua. Meskipun demikian, anak tetap wajib menghormati keduanya.

16

Setiap perbuatan akan diberi balasan (walau sekecil biji sawi sekalipun)

17

Pesan untuk mendirikan shalat, amar ma’ruf nahi mungkar (memerintahkan yang baik dan mencegah kejahatan), dan pesan agar sabar dalam menghadapi cobaan.

 

Sumber: Al-Qur'an Hadits XI Kemenag RI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  ADAB BERPAKAIAN, BERHIAS, PERJALANAN, BERTAMU DAN MENERIMA TAMU (Ringkasan BAB 4 Akidah Akhlak) No Akhlak Terpuji...