Selasa, 04 Agustus 2020

HAKIKAT PENCIPTAAN MANUSIA 2


(Q.S. al-Baqarah [2]: 30-32 dan Q.S. al-Dzariyat [51]: 56)

Al-Qur’an merupakan sumber hukum Islam yang pertama. Sebagai sumber hukum, isi kandungan al-Qur’an tidak hanya memuat tentang halal dan haram. Kandungan al-Qur’an meliputi berbagai aspek kehidupan manusia, diantaranya adalah terkait ilmu pengetahuan dan kisah para nabi terdahulu. Kandungan al-Qur’an berupa ilmu pengetahuan seperti tercermin dalam Q.S. al-Mu’minun [23]: 12-14 tentang proses penciptaan manusia di dalam rahim (penjelasan lihat Hakikat Penciptaan Manusia 1). Adapun terkait kisah nabi seperti tercermin dalam Q.S. al-Baqarah [2]: 30-32 yang bercerita tentang kisah penciptaan Nabi Adam as berikut:

وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ وَعَلَّمَ ءَادَمَ ٱلۡأَسۡمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمۡ عَلَى ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ فَقَالَ أَنۢبُِٔونِي بِأَسۡمَآءِ هَٰٓؤُلَآءِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ قَالُواْ سُبۡحَٰنَكَ لَا عِلۡمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ 

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.'" Mereka berkata, "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau!" Tuhan berfirman, "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.” Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama benda semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat seraya berfirman, "Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!" Mereka menjawab, "Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh, Engkaulah yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana."

Dalam ayat 30 dari  surat  al-Baqarah ini, disampaikan informasi bahwa sebelum  Allah  Swt.  menciptakan  manusia  yang  pertama,  yakni  Adam  as, hal  tersebut  sudah  disampaikan  kepada  para  malaikat.  Dalam  ayat tersebut,  terjadi  dialog  antara  Allah  Swt dengan  malaikat.  Allah  Swt. menyampaikan  kepada  para  malaikat  bahwa  Allah  Swt hendak menjadikan  khalifah   Allah  di  muka  bumi,  yaitu  manusia. Ketika Allah Swt menyampaikan  firman-Nya, malaikat segera  berkata, ”Mengapa  Engkau  hendak  menjadikan  (khalifah)  di  bumi  adalah  orang yang  akan  membuat  kerusakan  dan  menumpahkan  darah,  padahal  Kami senantiasa  bertasbih  dengan  memuji  Engkau  dan  mensucikan  Engkau?” Bila  dikaji  dengan  baik,  pernyataan  para  malaikat  tersebut  bukan pertanda keberatan atas  kehendak Allah Swt.  Sebab para  malaikat adalah makhluk  yang  sangat  taat  dan  patuh  terhadap  perintah  Allah  Swt,  tidak mungkin  malaikat  menentang  dan  mendurhakai-Nya,  termasuk menjadikan  manusia  sebagai  khalifah  di  muka  bumi  ini.  Dalam ayat tersebut, diketahui bahwa pertanyaan malaikat itu dijawab singkat oleh Allah Swt.: ”Sesungguhnya Aku (Allah) mengetahui apa yang kamu  tidak  ketahui”.  Jawaban  Allah  Swt.  tersebut  menyiratkan  manusia memang layak ditugasi sebagai khalifah di muka bumi, karena kelebihannya dibandingkan makhluk lain termasuk dari malaikat. Kelebihan yang sangat nyata  adalah  adanya  kelengkapan  unsur  penciptaan  manusia,  yaitu  jasad fisik,  dan  ruh,  termasuk  di  dalamnya  nafsu,  dan  yang  terpenting  adalah kelebihan  akal  pikiran  yang  dikaruniakan  Allah  Swt.  kepada  manusia. Dalam ayat selanjutnya, ayat 31-32, Allah Swt. telah menyatakan kelebihan manusia dibandingkan makhluk lainnya.

Adapun tujuan diciptakannya manusia termaktub dalam Q.S. al-Dzariyat [50]: 56 berikut:

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ 

“Aku  tidak  menciptakan  jin  dan  manusia  melainkan  agar  mereka beribadah kepada-Ku.”

Allah  Swt.  menegaskan  di  dalam  QS.  az-Zariyat  ayat  56  bahwa  tujuan dari  penciptaan  jin  dan  manusia  adalah  untuk  beribadah  kepada-Nya. Beribadah  dalam  arti  menyembah,  mengabdi,  menghamba,  tunduk,  taat dan  patuh  terhadap  segala  yang  dikehendaki-Nya.  Ketundukan,  ketaatan, dan  kepatuhan  dalam  kerangka  ibadah  tersebut  harus  menyeluruh  dan total,  baik  lahir  maupun  batin.  Sebab  tujuan  dari  ibadah  adalah  untuk mencari ridha Allah Swt.

Secara  garis  besar,  ibadah  dapat  dibedakan  menjadi  dua  yaitu:  ibadah mahdah, yakni ibadah yang ditetapkan ketentuan pelaksanaannya, seperti: shalat, puasa, zakat dan haji; dan ibadah  ghair mahdah,  yakni ibadah yang belum  ditetapkan  ketentuan  secara  khusus  dalam  pelaksanaannya. Sebagai contoh, ibadah  dalam   menyantuni fakir  miskin, berbuat baik, dan hal-hal lain dalam bentuk mu’amalah.

 

Sumber: Buku Al-Qur’an Hadits Kelas XI


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  ADAB BERPAKAIAN, BERHIAS, PERJALANAN, BERTAMU DAN MENERIMA TAMU (Ringkasan BAB 4 Akidah Akhlak) No Akhlak Terpuji...